RIEFKY RAKHARESWARA
1TA05
16316359
KOMUNIKASI DAN PERANANYA
Pengertian Komunikasi menurut definisi James A.F.Stoner adalah proses dimana seseorang berusaha memberikan pengertian dengan cara pemindahan pesan. Sedangkan menurut definisi Prof. Drs. H.A.W. Widjaya yang
mengatakan bahwa pengertian komunikasi adalah hubungan kontak antar dan
antara manusia baik individu maupun kelompok. Menurut definisi William F.Glueck yang menjelaskan bahwa komunikasi dapat dibagi menjadi dengan dua bentuk. yaitu sebagai berikut....
- Interpersonal Communications : Interpersonal communications
(komunikasi antarpribadi adalah proses pertukaran informasi serta
pemindahan pengertian antara dua orang atau lebih di dalam suatu
kelompok kecil manusia.
- Organization Communications : Organization communications
adalah proses dimana pembicara secara sistematis memberikan informasi
dan memindahkan pengertian kepada orang yang banyak dalam organisasi dan
kepada pribadi-pribadi dan lembaga-lembaga di luar yang ada hubungan.
Tujuan komunikasi- Secara umum, tujuan komunikasi adalah sebagai berikut...
- Supaya yang disampaikan komunikator dapat dimengerti oleh komunikan.
Agar dapat dimengerti oleh komunikan maka komunikator perlu menjelaskan
pesan utama dengan sejelas-jelasnya dan sedetail mungkin.
- Agar dapat memahami orang lain. Dengan melakukan komunikasi, setiap
individu dapat memahami individu yang lain dengan kemampuan mendengar
apa yang dibicarakan orang lain.
- Agar pendapat kita diterima orang lain. Komunikasi dan pendekatan
persuasif merupakan cara agar gagasan kita diterima oleh orang lain.
- Menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu. Komunikasi dan
pendekatan persuasif kita mampu membangun persamaan presepsi dengan
orang kemudian menggerakkannya sesuai keinginan kita.
PERANAN KOMUNIKASI
A. Informasi dan Komunikasi dalam lingkungan pendidikan
Disebut juga dengan informasi kependidikan dan komunikasi pendidikan,
sebab terjadinya komunikasi memang di dunia pendidikan. Pengertian
lengkapnya memang tidak bisa dijelaskan hanya menggunakan
betasan-batasan ringkas saja, karena seperti pengertian komunikasi
umumnya, tidak mungkin dibuatkan definisinya secara ringkas, tunggal,
dan tegas. Komunikasi pendidikan pun demikian, meskipun dalam hal ini
sudah disentuhkan ke dalam bidang pendidikan.
Pendidikan merupakan proses yang panjang, yang melibatkan banyak
unsur seperti pendidik, administrator pendidikan, proses, komunikasi,
peserta didik, pesan-pesan atau informasi pendidikan, dan adanya
tujuan-tujuan yang dicapai dari proses pendidikan dimaksud. Itu untuk
pendidikan formal. Lantas kalau pengertian pendidikan di dalam keluarga,
di masyarakat, di pesantren, dan di lembaga-lembaga pendidikan luar
sekolah lainnya, tentunya tidak seperti itu unsur-unsurnya. Dan
pengertiannya pun menjadi berbeda.
Pada pelaksanaan pendidikan formal atau pendidikan melalui
lembaga-lembaga pendidikan sekolah, tampak jelas bahwa proses komunikasi
sangat dominan kedudukannya. Hal ini setidaknya tampak dalam proses
instruksional, yang dalam dunia pendidikan sampai saat ini masih
menduduki posisi dominan. Gambar pada halaman berikutnya menunjukkan
proses pendidikan. Di situ tampak bahwa pendidikan bukan sekadar
mengajari anak-anak supaya menjadi lebih baik, menjadi pintar, atau
sekadar berkomunikasi dengan mereka yang isinya memberi nasehat supaya
mereka berperilaku baik. Namun sudah semakin kompleks, karena melibatkan
banyak unsur di dalamnya.
Tidak perlu disebut seberapa penting kedudukan komunikasi dalam
pendidikan. Yang jelas proses pendidikan memang sebagian besar hanya
bisa dilakukan melalui adanya proses komunikasi dan keterlibatan
informasi. Artinya, hampir tidak ada proses pendidikan yang tanpa
melalui komunikasi dan informasi. Orang menyampaikan pesan, mengajar,
memberikan data dan fakta untuk kepentingan pendidikan, merumuskan
kalimat yang baik dan benar, semuanya hanya bisa dilakukan dengan
penggunaan informasi komunikatif. Masalahnya adalah pada jenis
komunikasi yang bagaimana dan informasi jenis apa yang biasa dan sering
digunakan untuk tujuan dan menggarap bidang pendidikan. Jadi dengan kata
lain adalah komunikasi yang digunakan dalam lingkungan pendidikan, atau
komunikasi pendidikan yang lebih langsung mempunyai makna menyatu dalam
pendidikan. Pengertian umumnya adalah proses komunikasi yang dirancang
atau dipersiapkan secara khusus untuk tujuan-tujuan penyampaian
pesan-pesan atau informasi pendidikan.
Berbeda dengan komunikasi untuk hal-hal yang lainnya, komunikasi
pendidikan mempunyai tujuan yang jelas, yakni untuk merubah perilaku
sasaran ke arah yang lebih berkualitas, ke arah positif. Komunikasi
pendidikan mempunyai tanggung jawab untuk itu, karena memang harus bisa
dipertanggung jawabkan pada akhir dari suatu proses yang
dilaksanakannya, yakni melalui suatu evaluasi hasil pendidikan. Jika
hasil dari evaluasinya menunjukkan nilai yang jelek, itu bukan
semata-mata kekurangberhasilan peserta pendidikan dalam mengikuti proses
komunikasi pendidikan, melainkan juga menunjukkan kegagalan komunikasi
pendidikan yang disampaikan oleh komunikator pendidikan di lapangan.
Kalau siswa bodoh, bukan semata-mata siswanya yang tidak pandai,
melainkan gurunya yang tidak berhasil menyampaikan pesan-pesan
pendidikan melalui penggunaan proses komunikasi yang tepat. Dengan kata
lain informasi pendidikan yang disampaikannya tidak komunikatif, atau
mungkin juga karena yang disampaikan atau dikomunikasikannya bukan
informasi pendidikan. Hal ini demikian, sebab, bisa saja misalnya sang
guru dalam menyajikan materi pendidikannya terlalu tinggi tingkat
penalarannya, mungkin juga tidak runtut penyampaiannya, salah
menggunakan metode komunikasi, salah memilih strategi, kurang cocok
menggunakan media komunikasi, dsb. Banyak kemungkinan mengapa pendidikan
tidak berhasil.
- B. Informasi dan Komunikasi dalam lingkungan sosial
Dunia sosial sangat luas dan sangat abstrak jika tidak
dikonstruksikan dalam kasus-kasus kecil lebih dahulu, karena akan
mengundang banyak pertanyaan yang semakin merumit. Untuk mengetahui
realitas sosial secara utuh, orang sulit menjelaskannya secara bersama
dan sekaligus, melainkan perlu sepotong-sepotong, dan akhirnya
dihubungkan satu sama lain menjadi suatu sistem sosial yang terpadu.
Kita lihat sekali lagi gambaran ini dan bayangkan saja. Seseorang
pada suatu saat di suatu tempat, sedang sendirian. Kira-kira sedang
memikirkan apa dia. Mungkin saja dia sedang melamun, atau sedang
berpikir tentang utang-utangnya, atau sedang mencari hiburan, atau
sedang merencanakan kejahatan, atau sedang menunggu kawan, atau sedang
gelisah, marah, dsb. Dilihat dari segi kebutuhannya, dia mungkin saja
sedang memikirkannya bagaimana cara mendapatkan sesuatu yang
diidam-idamkannya. Jika dilihat dari aspek waktu, maka dia pun tidak
terbebas dari pengaruh waktu tersebut. Misalnya, jika tadi dia sedang
sendirian pada pagi hari, maka pada siang dan sore harinya tentu tidak
sama apa yang dilakukannya atau apa yang dipikirkannya, meskipun secara
fisik sama-sama berdiam di tempat yang sama. Orang tidak bisa berada
dalam dua ruang dan atau waktu yang berbeda pada saat yang sama.
- C. Informasi dan Komunikasi dalam lingkungan keluarga
Di lingkungan keluarga, komunikasi juga sangat besar kedudukannya
dalam mempertahankan kelangsungan hidup keluarga yang bersangkutan.
Tanpa dibarengi dengan pelaksanaan komunikasi yang terbuka antar anggota
dalam suatu keluarga, dipastikan tidak akan terjadi keharmonisan di
dalamnya. Bahkan kegagalan-kegagalan dalam perkawinan di suatu keluarga,
sebagian besar karena tidak adanya informasi komunikasi yang terbuka.
Salah satu syarat utama untuk memahamkan orang lain dalam lingkungan
keluarga adalah komunikasi yang terbuka tadi. Masing-masing anggota
keluarga saling membuka diri atas hal-hal yang bisa menjadikan
ketidaksejalanan anggota keluarga. Dengan membuka diri tersebut, maka
tiap anggota keluarga yang lain akan memahami kemauan-kemauan dan
gagasannya, sehingga jika pun terjadi hal-hal yang berbeda, akan bisa
dicari jalan keluarnya.
Dalam keluarga juga paling sering terjadinya proses komunikasi dan
informasi pendidikan. Bukankah pendidikan awalnya dari keluarga?
Sebagian besar manusia dididik awalnya di lingkungan keluarga. Segala
perilaku orang tua dan lingkungannya dalam keluarga, sepanjang anak-anak
masih diasuh di dalamnya, akan selalu mendapatkan proses pendidikan.
Bentuk nyatanya adalah, orang tua selalu memberi nasehat-nasehat
tertentu kepada anak-anaknya, membuat peraturan yang mengikat terhadap
seluruh anggota keluarga, melindungi anak dari hal-hal buruk dan
pengaruh luar yang buruk, memberikan contoh bagaimana makan yang baik,
berbicara yang sopan, dan bertindak sesuai dengan aturan norma yang
berlaku, dsb. Itu semua menggambarkan proses pendidikan di dalam
keluarga.